Dalam rangka menindak lanjuti hasil evaluasi akreditasi internasional AQAS, Senin (25/09/2023), program studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) mengadakan workshop rencana rekonstruksi kurikulum dengan mengundang stakeholder antara lain Ratna Wirastyani, M.Sos (UPT BLK Wonojati), Assoc. Prof. TS. Dr. Nurul Huda (Universiti Malaysia Sabah), Johan Fiverianto (PT. Bumi Menara lnternusa), Yasinta Inna Salsabila (CV. Graha Bahari) sekaligus melibatkan alumni dan mahasiswa prodi THP.

Pada sambutan pembukaannya, Wakil Dekan Bidang Akademik Prof. Dr.Sc. Asep Awaludin Prihanto menyatakan, “Penataan kurikulum ini merupakan amanah yang harus dilakukan tidak hanya sebagai bagian dari hasil evaluasi akreditas internasional AQAS akan tetapi kurikulum perlu disesuaikan dengan kondisi dunia kerja. Serta perlu adanya evaluasi kurikulum selama 5 tahun sekali untuk menyesuaikan kondisi sesuai dengan perkembangan era. Masukan dari stakeholder, alumni dan mahasiswa diperlukan untuk mereformulasikan ulang untuk terbentuknya rumusan kurikulum dan kompetensi lulusan yang dibutuhkan untuk dunia kerja”.

Ketua prodi THP Retno Tri Astuti, M.Si mengatakan bahwa pada hasil evaluasi akreditasi internasional AQAS, ada tiga poin penting yang perlu diperbaiki pada kurikulum prodi THP yaitu dibutuhkannya input tentang dasar-dasar perikanan, perlunya memasukkan mata kuliah dasar bidang science murni terutama biologi dan kimia dan meningkatkan jumlah mata kuliah berpraktikum dengan sistem praktikum yang terstruktur. Tim kurikulum prodi THP pun telah menentukan arah pengembangan bidang keahlian prodi THP antara lain foods processing, quality control and assurance, aquatic biotechnology dan food safety.

Stakeholder yang hadir memberikan masukan bahwa perlunya mata kuliah mengenai pembacaan dan pengolahan data serta perlu diadakan praktek pengolahan ikan dengan kriteria ikan yang bervariasi. Selain itu, teori dan penulisan laporan praktikum penting karena sebagai acuan dalam hal praktek di masa perkuliahan maupun saat dipraktekkan di dunia kerja nantinya.

Adapun masukan dari mahasiswa adalah peran dari dosen Pembimbing Akademik (PA) sebaiknya dilanjutkan menjadi pembimbing PKL maupun pembimbing skripsi sehingga ada proses bimbingan yang terstruktur dan berkelanjutan.

Assoc. Prof. TS. Dr. Nurul Huda menambahkan perlunya industrial training yang bertujuan untuk membekali mahasiswa untuk kesiapan kerja setelah kelulusan. Selain itu, materi dan praktek terkait entrepreneurship juga dibutuhkan serta perlunya communication soft skill yang harus ditingkatkan, contohnya dengan mempresentasikan dan mendiskusikan hasil praktek.

Hasil dari diskusi dan workshop ini akan dibahas lebih lanjut oleh tim pengembang kurikulum prodi THP pada kegiatan lokakarya kurikulum fakultas selanjutnya dengan tujuan menghasilkan kurikulum yang sesuai dengan masukan panel expert AQAS maupun kurikulum yang dapat menjawab kebutuhan dunia kerja bagi lulusannya. [YFS]