Ditulis pada tanggal 15 November 2017, oleh staff psik 1, pada kategori Berita

Gelaran ASEAN Fisheries Education Network, International Fisheries Symposium (ASEAN-FEN, IFS) Tahun 2017 yang dilaksanakan tahun ini memiliki arti spesial karena Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya mendapatkan kehormatan sebagai penyelenggara. Acara ASEAN-FEN IFS sendiri merupakan event tahunan terbesar yang dilaksanakan oleh ASEAN-FEN, sebuah jejaring perguruan tinggi se-Asia yang memiliki fakultas atau jurusan perikanan dan kelautan. Sampai dengan Tahun 2017, tercatat 27 Universitas di Asia yang tergabung dalam ASEAN-FEN dan menjadikannya sebagai salah satu jejaring perguruan tinggi perikanan dan kelautan terbesar di Asia. Universitas di Indonesia yang tergabung dalam ASEAN-FEN diantaranya adalah Universitas Brawijaya dan Universitas Airlangga sebagai Core Member, sedangkan IPB, UNSOED dan UGM masih berstatus sebagai Associate Member.

Acara dilaksanakan pada 7 – 9 November 2017, bertempat di Agro Kusuma Convention Hotel di Batu. Sebanyak 531 peserta dari 11 negara ASEAN, Asia dan Eropa. Acara dibuka oleh chairman IFS 2017 yaitu Dr. Sc. Asep Awaludin Prihanto dari FPIK UB yang melaporkan bahwa acara ini diikuti oleh total 531 peserta dari 11 negara, terbagi dalam 328 peserta presenter oral, 138 peserta poster dan 67 peserta umum. Selain itu, acara ini juga didukung oleh 7 parter publikasi dimana 2 diantaranya adalah publikasi internasional terindeks Scopus. Sambutan kedua disampaikan oleh Chairperson ASEAN-FEN Prof. Dr. Sukhree Hajisamae dari Pronce Songkla University, Thailand dan dilanjutkan dengan pembukaan secara simbolis oleh Wakil Rektor IV Universitas Brawijaya, Dr. Ir. Sasmito Djati, MS. Beberapa keynote speaker yang diundang pada IFS tahun ini memberikan paparan menarik mengenai rencana ke depan untuk menguatkan sector perikanan berkelanjutan.

Prof Diana Arfiati dari FPIK UB, yang merupakan keynote speaker pertama, menyampaikan paparan mengenai potensi tiram di pesisir Jawa Timur bagian selatan dan utara. Dari lokasi pengambilan sampel di beberapa pantai di Jember, Trenggalek, Pasuruan dan Probolinggo, ditemukan 9 jenis tiram dan bivalvia yang ke depannya dapat dibudidaya lebih lanjut sebagai sumber pangan dan ekonomi.

Keynote speaker yang kedua yaitu Prof. Motoki Kubo dari Ritsumeikan University memberikan materi mengenai upaya perbaikan lingkungan akuatik melalui penerapan teknologi mikroorganisme. Contoh yang diambil adalah Danau Biwa, yang semakin tercemar akibat limbah domestik dan ASEAN aktivitas manusia di sekitarnya. Upaya penanaman tanaman air untuk menyerap polutan tidak memberikan hasil signifikan karena beban pencemaran yang naik berlipat ganda. Upaya yang coba dikembangkan adalah membuat Water Treatment System yang melibatkan bakteri untuk memecah nitrogen, sehingga mengurangi polutan organic yang dapat memicu blooming algae . Sistem tersebut telah diujicobakan skala lapangan di kolam Kitano-Shin. Hasilnya, setelah ditreatment 3 tahun (2014 – 2017) dengan system mikroorganisme tersebut, kualitas air pada kolam Kitano-Shin menunjukkan adanya perbaikan.

Keynote speaker ketiga, Prof. Qi Zhi dari Ocean University of China memberikan materi mengenai perkembangan probiotik di China untuk budidaya laut serta potensinya untuk diaplikasikan ke seluruh dunia.

“BLUE BIOTECHNOLOGY”, TEKNOLOGI BUDIDAYA MASA DEPAN

Keynote speaker ketiga, Prof. Patrick Sorgeloos dari Ghent University, Belgia, menyampaikan pilar penting kolaborasi antar universitas untuk perbaikan sektor perikanan. Kontribusi yang diberikan meliputi edukasi, riset dan layanan kepada masyarakat perikanan.

Peran universitas cukup penting, mengingat tantangan upaya ke depan adalah “peningkatan produksi perikanan tangkap diharuskan naik 50% per tahun agar dapat mencukupi kebutuhan manusia akan ikan laut untuk dikonsumsi”. Di sisi lain, kondisi lingkungan yang ada sekarang ini menjadi tatangan tersendiri sehingga target tersebut menjadi sulit dicapai. Perikanan budidaya menjadi jalan keluar untuk mencapai target.

Walaupun begitu, kegiatan perikanan budidaya (aquakultur) juga tidak terlepas dari permasalahan. Beberapa tantangan yang dihadapi diantaranya: Keamanan pangan, penyakit budidaya, kondisi perubahan iklim, kesenjanagan kolaborasi antara produksi skala industry dengan petani atau petambak kecil serta dampak lingkungan dari kegiatan perikanan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, gagasan mengenai blue biotechnology menjadi pilihan utama untuk diaplikasikan. Ke depannya, beberapa poin dibawah ini akan menjadi focus untuk diterapkan pada sector budidaya:
(1) Domestikasi spesies ikan konsumsi

(2) Produksi benih yang lebih hemat biaya

(3) Pemilihan jenis ikan secara lebih selektif

(4) Breeding yang lebih selektif untuk menjaga stock ikan

(5) Penggunaan mikroba untuk peningkatan produksi yang ramah lingkungan

(6) Penguatan penelitian pada system imun

(7) Produksi terintegrasi antara budidaya tanaman dengan budidaya ikan

(8) Budidaya ikan di lepas pantai

(9) Perbaikan teknologi pakan

(10) Perbaikan pengelolaan perikanan melalui aktivitas restoking

(11) Penguatan stakeholder perikanan

Setelah paparan dari para keynote speakers, peserta diarahkan menuju panel komisi masing-masing untuk memberikan presentasi mengenai hasil penelitian perikanan yang telah dilaksanakan di masing-masing negara. Adanya kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ajang diseminasi sekaligus benchmark riset perikanan antar universitas, sehingga terjadi transfer teknologi maupun kegiatan bersama antar universitas yang berada pada jejaring ASEAN-FEN.

SPOTLIGHT: DEKAN FPIK UB, Dr. HAPPY NURSYAM TERPILIH SEBAGAI CHAIRPERSON ASEAN-FEN 2018 – 2019

Salah satu bagian penting dari penyelenggara IFS tahun ini adalah terpilihnya Dr. Happy Nursyam, Dekan FPIK Universitas Brawijaya sebagai Chairperson ASEAN-FEN periode 20182019 menggantikan Assoc. Prof. Sukree Hajisamae dari Prince of Songkla University, Thailand.

Pada sesi wawancara, beliau menyampaikan bahwa ASEAN-FEN merupakan jejaring Universitas skala regional yang cukup besar, sehingga dapat dijadikan momentum yang baik untuk peningkatan kualitas dan upaya internasionalisasi FPIK UB. Dengan adanya kegiatan rutin ASEAN-FEN Plus seperti IFS, joint research, visiting professor ataupun pendekatan kolaborasi dengan sector industry untuk pengembangan sector perikanan, diharapkan FPIK UB dapat mengambil peran signifikan sehingga dapat memberikan manfaat utamanya kepada civitas akademika FPIK UB.

INTERNATIONAL FISHERIES SYMPOSIUM (IFS) 2017

Chairman: Dr. Sc. Asep Awaludin Prihanto (081330216127)

Media and publications: Dhira K. Saputra, M.Sc (081229602855)

External links: aseanfen.com ifs2017.ub.ac.id

Sekretariat IFS 2017: Gedung utama FPIK UB Lt.6, Jl. Veteran, Malang